psikologi jomo dalam traveling
menikmati momen tanpa perlu membagikannya ke internet
Pernahkah kita berdiri di depan sebuah pemandangan yang luar biasa indah—mungkin matahari terbenam di pantai atau deretan pegunungan yang berkabut—tapi insting pertama kita bukanlah menarik napas panjang, melainkan merogoh kantong untuk mencari ponsel? Saya sendiri sering merasakannya. Kita terburu-buru membuka kamera, mencari angle terbaik, lalu otak kita langsung sibuk merangkai caption apa yang paling pas untuk diunggah. Tiba-tiba saja, momen magis di depan mata itu lewat begitu saja. Kita sibuk bertransformasi menjadi sutradara untuk audiens yang entah sedang melakukan apa di seberang layar sana, padahal kitalah yang sedang berdiri di panggung utamanya.
Mari kita bedah fenomena ini pelan-pelan secara keilmuan. Secara evolusioner, manusia adalah makhluk yang sangat sosial. Di zaman prasejarah, terasing dari kelompok sama artinya dengan kematian. Jadi, wajar kalau otak kita dirancang untuk selalu mendambakan validasi dari kelompok sosial kita. Di era modern, insting purba ini dibajak habis-habisan oleh algoritma. Kita mengidap Fear of Missing Out atau yang akrab kita sebut FOMO. Saat sedang traveling, kita tanpa sadar merasa bahwa pengalaman liburan kita belum "sah" kalau belum ada jejak digitalnya. Kita menukar pengalaman sensorik yang kaya—suara angin, wangi tanah, tekstur udara—dengan suntikan dopamin instan dari notifikasi media sosial. Tapi sadarkah teman-teman, ada harga yang sangat mahal yang diam-diam sedang kita bayar setiap kali kita melakukan ini?
Ini adalah bagian psikologi yang paling menarik. Dalam literatur sains kognitif, ada sebuah fenomena yang dinamakan photo-taking impairment effect. Singkatnya begini: ketika kita mengandalkan perangkat eksternal seperti ponsel untuk merekam suatu kejadian, otak kita secara otomatis akan berhenti berusaha mengingat detail kejadian tersebut. Otak kita seolah berbisik, "Ah, momen ini sudah disimpan di memori ponsel, aku tidak perlu membuang energi untuk memprosesnya ke memori jangka panjang." Bukankah ini ironi yang luar biasa? Tujuan utama kita memotret biasanya agar kita tidak lupa. Tapi secara neurologis, justru tindakan memotret terus-menerus itulah yang membuat ingatan kita tentang liburan tersebut menjadi kabur dan dangkal. Lalu, pertanyaannya, bagaimana caranya kita memutar balik paradoks memori ini?
Jawabannya terletak pada sebuah pendekatan psikologis yang disebut JOMO, atau Joy of Missing Out. Ini bukan sekadar gerakan anti-internet atau gaya hidup sok edgy. Secara neurobiologis, JOMO adalah pergeseran sirkuit reward atau sistem penghargaan di dalam otak kita. Saat kita dengan sadar memilih untuk tidak membagikan momen traveling ke internet, kita mematikan keran dopamin murahan yang bergantung pada pujian orang lain. Sebagai gantinya, otak kita mendapat ruang untuk melepaskan hormon serotonin dan oksitosin. Hormon-hormon ketenangan ini hanya akan muncul saat kita benar-benar mindful, saat kita hadir sepenuhnya di masa kini. Bayangkan sensasi kebebasannya. Kita tidak perlu cemas rambut kita berantakan saat difoto. Kita bisa memakan kuliner lokal selagi hangat tanpa perlu memotretnya dari berbagai sudut. Kita mengizinkan hippocampus—pusat memori di otak kita—untuk bekerja maksimal, mengukir pengalaman itu dalam-dalam di kepala kita, bukan di dalam server perusahaan teknologi.
Tentu saja, menahan diri untuk tidak posting bukanlah hal yang mudah. Tangan kita pasti akan gatal meraih ponsel saat melihat sesuatu yang estetik. Namun, mari kita coba sebuah eksperimen kecil di jadwal traveling teman-teman berikutnya. Pilih satu hari penuh, atau setidaknya satu momen spesifik seperti saat melihat sunset, dan simpan ponsel rapat-rapat di dalam tas. Biarkan mata kita menjadi satu-satunya lensa yang merekam. Biarkan perasaan kita menjadi satu-satunya memory card. Tidak ada yang like, tidak ada yang memberi komentar, dan sama sekali tidak ada orang lain yang tahu betapa indahnya momen tersebut selain kita sendiri. Dan rasakan sensasi hangat yang muncul setelahnya. Menikmati sebuah memori yang indah dan menyimpannya sebagai rahasia kecil hanya untuk diri sendiri, terkadang adalah jenis kebahagiaan yang paling mewah.